Dulu, masalah terbesar pas lagi ngoding atau ngerjain sesuatu itu bukan soal ngetik kodenya. Tapi soal konteks.
Kadang kita harus pindah dari ngerjain frontend, tiba-tiba harus ngecek server, terus balik lagi ke desain arsitektur. Otak kita butuh waktu buat nge-load ulang ingatan: "Tadi sampai mana ya?", "Eh, waktu itu ngebenerin error ini gimana caranya?", atau "Standar nulis komponen di project ini kemarin disepakatinya gimana?"
Semakin banyak tools yang kita pakai, semakin gampang konteks itu berantakan.
Sampai akhirnya gua nemu satu workflow yang lumayan merubah cara kerja sehari-hari. Kombinasinya sederhana banget: Obsidian, file Markdown (.md), dan Hermes Agent.
Obsidian dan Markdown sebagai "Otak Kedua"
Gua tipe orang yang lumayan religius soal nyatet. Dan tempat nyatet utama gua sekarang adalah Obsidian. Kenapa Obsidian? Karena dia cuma nyimpen file lokal berbasis Markdown (.md). Nggak ada database aneh-aneh, gampang di-search, dan cepet banget.
Semua hal gua taruh di situ. Mulai dari ide, draft artikel, catatan meeting, sampai ke dokumentasi teknis. Kalau lagi mau mulai ngerjain fitur, gua biasanya bikin plan dulu di file markdown. Isinya sederhana: apa yang mau dicapai, batasannya apa, dan urutan kerjanya gimana.
Di sinilah letak magisnya. Karena semuanya berbasis teks biasa, file-file ini jadi sangat gampang dibaca oleh AI.
Hermes Agent: Lebih dari Sekadar Copilot
Belakangan ini gua pakai Hermes Agent buat bantu eksekusi pekerjaan teknis. Beda sama AI copilot biasa yang cuma nebak kode baris per baris di editor, Hermes ini bentuknya agent otonom. Dia bisa buka terminal, baca file, nulis file, sampai ngejalanin perintah server.
Tapi yang bikin dia beneran kerasa kayak asisten pribadi adalah kemampuannya buat baca "otak kedua" tadi.
Jadi alurnya kira-kira begini: gua tulis instruksi atau plan di dalam Obsidian. Terus, gua tinggal suruh Hermes: "Bro, baca file plan.md di folder ini, pelajarin konteksnya, terus eksekusi langkah 1 sampai 3."
Dia bakal jalanin sesuai dengan apa yang ada di catatan itu. Kalau ada error, dia nggak langsung nyerah atau nunggu disuapin. Dia bakal nyari tahu sendiri lewat terminal, baca log, lalu coba perbaiki berdasarkan konteks yang dia pegang.
Menyimpan Kebiasaan Lewat "Hermes Skills"
Ada satu fitur di Hermes yang menurut gua game changer banget: Skills.
Skill ini pada dasarnya adalah kumpulan prosedur operasional standar (SOP) yang kita ajarkan ke agent. Misalnya, tiap kali gua mau bikin komponen UI baru, gua punya standar sendiri soal penamaan file, letak folder, dan gaya penulisan script setup-nya.
Daripada ngulang-ngulang prompt panjang tiap kali mau ngoding, gua jadikan prosedur itu sebagai satu "Skill" di Hermes. Cukup ditulis sekali di dalam sebuah file markdown. Nanti, tiap kali butuh, gua tinggal bilang: "Bikin komponen form login baru, pakai skill nuxt-frontend-standard yang biasa."
Agent-nya bakal langsung paham dan ngerjain tugasnya sesuai standar yang udah gua patenin. Konsistensinya terjaga, dan gua nggak perlu pusing mikirin hal-hal repetitif.
Bukan Soal Kecepatan, Tapi Ketenangan
Kerja bareng AI Agent pakai cara ini nggak melulu soal "bisa ngerjain 10x lebih cepat". Tapi lebih ke soal peace of mind.
Gua nggak perlu takut lupa cara setup server, karena langkah-langkahnya udah kesimpen di Obsidian dan bisa dieksekusi sama Hermes. Gua nggak perlu capek ngetik boilerplate kode, karena skill-nya udah diajarin.
Pada akhirnya, AI agent itu cuma alat. Kalau workflow kita berantakan, hasilnya juga bakal berantakan. Tapi kalau kita bisa merapikan pikiran kita (lewat catatan markdown) dan mengajarkan standar kita (lewat skills), AI agent bener-bener jadi mesin pengali yang luar biasa.