Lagi rame banget di Twitter (X) dan forum developer soal istilah Vibe Coding. Awalnya kedengaran keren, tapi belakangan ini efeknya mulai bikin gerah, terutama buat lu yang sering main di ranah freelance.
Harga bikin website simpel, kayak company profile atau landing page biasa, tiba-tiba hancur lebur di pasaran. Klien nawar dengan harga yang nggak ngotak. Kenapa? Karena sekarang siapa aja ngerasa bisa "ngoding" cuma modal ngobrol sama AI.
Apa sih Vibe Coding itu?
Istilah ini dipopulerkan oleh developer seperti Andrej Karpathy. Intinya: lu bikin software tanpa bener-bener ngetik kodenya secara manual, apalagi paham setiap baris syntax-nya. Lu cuma ngasih prompt, AI nge-generate kodenya, lu jalankan. Kalau error? Tinggal di-copas lagi errornya ke AI, biarin AI yang benerin.
Semuanya kerasa ngalir gitu aja. Cuma berbekal vibes dan modal "kayaknya gini bener deh". Nggak ada lagi proses mikir keras soal data structure, memory leak, atau arsitektur sistem di awal.
Sikut-sikutan: Programmer vs Vibecoders
Gara-gara tren ini, muncullah ketegangan (friction) antara programmer asli dan para vibecoders ini. Programmer yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun buat belajar fundamental, clean code, dan security ngerasa kerjaan mereka didevaluasi.
Di situs freelance, proyek-proyek sederhana mulai dibabat abis sama vibecoders dengan harga yang luar biasa murah. Mereka berani pasang tarif rendah karena secara teknis, tenaga yang mereka keluarin emang cuma buat nge-prompt dan nungguin AI nyelesein kerjaan.
Bahayanya Ngoding Tanpa Fundamental
Sekilas, vibe coding emang kelihatan revolusioner (dan emang ngebantu produktivitas banget). Tapi masalah gedenya muncul saat aplikasinya udah butuh scale, butuh integrasi yang kompleks, atau yang paling parah: kena isu keamanan.
Banyak vibecoders yang buta soal fundamental. Saat aplikasinya masuk ke infinite hallucination loop (AI-nya disuruh ngebenerin error malah bikin error baru), mereka mentok. Nggak tau cara debug manual. Nggak tau cara baca stack trace. Akhirnya klien yang jadi korban, dan ujung-ujungnya klien nyari programmer asli buat ngeberesin "kode spaghetti" hasil generate-an AI tersebut.
Gimana Gua Harus Menyikapinya?
Kalau lu masih ngandelin proyek company profile statis atau web super simpel sebagai sumber pendapatan utama, ini saatnya lu level-up. Pasar di sana udah terlalu "berdarah-darah".
Fokuslah ke hal-hal yang AI masih kesulitan buat jalanin secara mandiri: arsitektur sistem yang kompleks, optimasi performa database, keamanan (security), dan memahami business logic yang spesifik dari klien lu.
Jadikan AI sebagai mesin pengali (multiplier) dari fundamental yang udah lu punya. Jadilah programmer sejati yang di-boost oleh AI, bukan sekadar orang yang nge-vibe nungguin magic terjadi.
Referensi & Bacaan Lanjut
- Simon Willison (2026): Vibe coding and agentic engineering are getting closer than I'd like - Pandangan kritis soal bagaimana vibe coding dan agentic engineering mulai bercampur aduk.
- Bram Cohen (2026): The cult of vibe coding is dogfooding run amok - Opini pedas tentang bahayanya budaya vibe coding yang minim pemahaman fundamental.
- Technically (2026): Will vibe coding end like the maker movement? - Analisis tentang masa depan tren ini dalam industri web development.